Senin, 22 Oktober 2012

Anger Management


Anger Management
          Hari itu adalah saat yang paling membuat hati saya kesal.  Bagaimana tidak, secara sepihak seseorang telah menuduh saya melakukan sesuatu tanpa sedikitpun melakukan konfirmasi akan kebenarannya.  Sedih, marah dan kecewa bercampur menjadi satu atas fitnah itu.  Awalnya ketika mendengarnya, saya berpikir bahwa mungkin orang tersebut tidak mengerti.  Namun, ketika dia sudah mengumbarnya kepada orang banyak, wajar rasanya kalau saya bereaksi keras!.  Marah dan protes itu yang saya lakukan sebagai wujud reaksi terhadap masalah tersebut. 
            Sebagai seseorang yang “ekspresif” biasanya saya memang tidak mampu menyimpan apapun yang saya rasakan.  Kemarahan dan kekesalan saya lampiaskan melalui “update status” di media social.  Saat itu saya menulis “Istighfar dan berwudhu – Kiat menahan amarah”.  Saya ingin agar orang lain tahu apa yang saya rasakan dan bagaimana saya menyikapinya.  Alhasil, beberapa teman merespon status yang saya tuliskan tersebut.  Ada yang mendukung, ada yang menasihati dan ada pula yang ingin tahu lebih dalam terkait status yang saya tuliskan.

Saya merasa beruntung, karena memiliki teman-teman yang luar biasa.  Dengan mereka merespon status saja, saya sudah merasa sangat diperhatikan.  Terlebih lagi, mereka juga menyampaikan simpati dan saran bagaimana menyikapinya setelah mereka mengetahui permasalahan yang saya hadapi.  Perhatian teman-teman, membuat saya teringat pada suatu film yang berjudul “Anger Management”.  Dalam film itu diceritakan bagaimana si tokoh utama dirundung berbagai masalah yang membuatnya “naik darah” alias marah.  Sang tokoh utama dikondisikan pada suatu keadaan, sehingga seolah-olah dia harus ikut dalam kelas “terapi” untuk mengatasi amarah.  Berkat dukungan para sahabat-sahabatnya sang tokoh utama akhirnya berhasil mengelola kemarahannya.
 
            Dari kisah film tersebut, saya belajar bahwa rasa marah memang boleh ada.  Namun  perlu disadari bahwa kita harus mengelolanya dengan baik, agar tidak mendatangkan label negatif bagi diri kita.  Peran keluarga, teman dan orang sekitar kita sangat penting dalam mendukung terciptanya hal positif baik bagi diri kita sendiri maupun sebaliknya.  Saya sangat berterima kasih pada teman-teman dan keluarga yang telah memberikan aura positif pada permasalahan yang saya hadapi.  Sehingga pada akhirnya saya berhasil menanamkan keyakinan diri bahwa “siapa yang menanam, maka dia yang akan menuai”.  Artinya, jika ada orang yang menebar fitnah dan berbicara tanpa bukti, maka orang tersebut yang akan menanggung akibat atas perbuatannya.  Biarkan tangan Tuhan yang akan berperan dalam hal ini.  Kita tidak perlu meminta Tuhan membalas perbuatannya, karena Tuhan tahu pasti apa yang akan diberikan kepada hambaNYA. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar