Memilih Warna Bahagia
(part 2)
Jika menjadi wanita bekerja adalah
pilihan, apakah menjadi seorang ibu rumah tangga juga pilihan?. Apa ini merupakan
“kodrat” yang harus diterima oleh seorang wanita?. Aaaaah….kita memang tidak pernah bisa lepas dari segala pilihan di
dunia ini. Selain profesi, kita pasti
sering sekali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang pada akhirnya menjadi bagian
dalam proses kita menjalani kehidupan.
Ingatkah saat kita harus
memutuskan mau bersekolah dimana? Sekolah negeri atau swasta? Lanjut kuliah
atau langsung kerja? Kerja atau wiraswasta? Menikah atau stay jomblo?. Terkait
pilihan hidup, kita tidak akan pernah sampai pada dimensi benar atau salah (walau hidup itu mirip sekali dengan ujian,
benar khan?). Setiap individu melihat
suatu pilihan dari ribuan sudut pandang dengan ribuan alasan yang
melatarbelakanginya. Jadi apapun pilihan
hidup kita, semua berpulang pada bagaimana kita menjalani dan melihatnya
Lantas, bagaimana dengan Yuni yang
memilih menikah di usia muda? Pilihan yang sudah ditetapkan sejak ia duduk di
sekolah menengah pertama alias SMP, hmm..mau tau kenapa? karena di situlah ia
bertemu Bimo, laki-laki yang telah membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama. Kisah kasih mereka diwarnai dengan putus nyambung, namun cinta yang kuat mampu
membawa mereka pada pernikahan.
Awalnya, Bimo tidak keberatan
saat Yuni memilih tetap bekerja walau mereka telah menikah. Namun, hal tersebut berubah ketika mereka memiliki
buah hati “kembar” pertama mereka. Bimo memutuskan agar Yuni berhenti bekerja
dan fokus pada kedua buah hati. Semua berjalan sempurna karena keputusan yang
diambil telah disepakati bersama. Keduanya
menikmati perannya masing-masing dalam membina biduk rumah tangga kecil
mereka.
Hari itu, usia perkawinan Yuni
dan Bimo memasuki tahun ke-6. Akan
menjadi hari yang paling membahagiakan mereka tentunya. Namun tak disangka tak
diduga, ternyata justru berita yang sangat me-luluhlantak-kan hati Yuni yang dia terima. Bimo ditangkap polisi karena dugaan
penyalahgunaan dana pembangunan gedung di kantornya. Hati Yuni kian terpuruk ketika ia menyaksikan
Bimo, pria yang sangat dicintainya, terduduk lesu dan muram di lantai penjara
saat dia datang menjenguk suaminya.
Tiba-tiba saja tangisan Yuni pecah saat Bimo menggenggam tangannya dan
mengucapkan maafnya berkali-kali sambil berlutut dihadapan Yuni dari balik
jeruji penjara. Yuni tidak pernah
menyangka bahwa Bimo bisa melakukan hal itu.
Bimo yang ia kenal selama ini adalah sosok pria yang bertanggung jawab
dan jujur sehingga tidak mungkin Bimo melakukan hal seperti yang dituduhkan
itu.
Malang tak dapat dicegah, untung
tak dapat diraih. Setelah melalui masa
persidangan yang melelahkan akhirnya vonis pengadilan memutuskan Bimo harus
menjalani hukuman dengan masa pidana penjara selama 5 tahun. Sejak masa persidangan hingga saat di
penjara, Yuni tidak pernah sedikitpun meninggalkan Bimo sendiri. Hampir setiap hari Yuni selalu menyempatkan
hadir mengunjungi Bimo untuk memberinya semangat dan dukungan agar Bimo mampu
menghadapi cobaan ini dengan tabah dan tawakal.
Yuni yakin bahwa Bimo hanyalah korban dari “kejahatan bersama” yang
dilakukan oleh rekan-rekan kantornya. Namun karena Bimo berperan sebagai
bendahara proyek tersebut maka sepenuhnya tanggung jawab penggunaan dana berada
di tangan Bimo.
Kini, Yuni memutuskan untuk
kembali bekerja demi menyambung kehidupan dan membesarkan dua buah hati
mereka. Walau menjalani kehidupan yang
timpang tanpa adanya pendamping di sisinya, tidak membuat Yuni terjerat dalam
lubang kesedihan yang berlarut-larut. “Hidup
harus terus berjalan, cobaan bisa datang kapan saja silih berganti, namun kita
tidak boleh kehilangan rasa bahagia dan syukur kita atas nikmat Tuhan lainnya
yang telah diberikan kepada kita”.
Itulah yang Yuni katakan pada saya, ketika saya datang menengoknya untuk mengetahui bagaimana
kabarnya setelah Bimo berada di penjara.
Saya kembali dipertontonkan
kisah indah yang menurut saya sangat luar biasa. Kisah tentang bagaimana kuatnya cinta dapat
mempersatukan dua insan manusia baik saat bahagia maupun saat terpuruk. Kisah tentang kesetiaan seorang istri kepada
suaminya baik pada saat dia sukses maupun saat gagal dan kisah bagaimana
seorang mahluk Tuhan mampu tetap bahagia dan bersyukur terhadap nikmat dan
ujian yang Tuhan berikan.
Saya kagum, bangga dan sekaligus
terharu baik kepada Yuni maupun Bimo. Mereka,
masih tetap mampu menyuguhkan kondisi layaknya sebuah keluarga bahagia walau
kehidupan mereka dipisahkan oleh jeruji penjara. Saya tak kuasa menahan air mata saat saya
menuliskan kisah ini. Mereka adalah potret keluarga yang sesungguhnya walaupun
hidup mereka serba kekurangan. Mereka memiliki bahagia yang mungkin tidak
dirasakan oleh keluarga kaya yang utuh berkumpul dalam satu rumah tapi tidak
disatukan dengan cinta. “Yuni,Bimo, kalian
berhak untuk bahagia dan ternyata kalian memang sudah memilih untuk bahagia
dengan menjalani apa yang sudah menjadi ketetapan Tuhan dengan penuh kesabaran
dan ketabahan.”. Saya sangat setuju, bahwa
bahagia itu hanya diri kita-lah yang
bisa menentukannya. Bahwa arti bahagia
bagi setiap orang tidak akan pernah sama karena merekalah yang memilih warna
bahagia mereka sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar