Senin, 22 Oktober 2012

Memilih Warna Bahagia (part 2)


Memilih Warna Bahagia (part 2)
            Jika menjadi wanita bekerja adalah pilihan, apakah menjadi seorang ibu rumah tangga juga pilihan?. Apa ini merupakan “kodrat” yang harus diterima oleh seorang wanita?. Aaaaah….kita memang tidak pernah bisa lepas dari segala pilihan di dunia ini.  Selain profesi, kita pasti sering sekali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang pada akhirnya menjadi bagian dalam proses kita menjalani kehidupan. 
Ingatkah saat kita harus memutuskan mau bersekolah dimana? Sekolah negeri atau swasta? Lanjut kuliah atau langsung kerja? Kerja atau wiraswasta? Menikah atau stay jomblo?.  Terkait pilihan hidup, kita tidak akan pernah sampai pada dimensi benar atau salah (walau hidup itu mirip sekali dengan ujian, benar khan?). Setiap individu melihat suatu pilihan dari ribuan sudut pandang dengan ribuan alasan yang melatarbelakanginya.  Jadi apapun pilihan hidup kita, semua berpulang pada bagaimana kita menjalani dan melihatnya
            Lantas, bagaimana dengan Yuni yang memilih menikah di usia muda? Pilihan yang sudah ditetapkan sejak ia duduk di sekolah menengah pertama alias SMP, hmm..mau tau kenapa? karena di situlah ia bertemu Bimo, laki-laki yang telah membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama.  Kisah kasih mereka diwarnai dengan putus nyambung, namun cinta yang kuat mampu membawa mereka pada pernikahan. 
Awalnya, Bimo tidak keberatan saat Yuni memilih tetap bekerja walau mereka telah menikah.  Namun, hal tersebut berubah ketika mereka memiliki buah hati “kembar” pertama mereka. Bimo memutuskan agar Yuni berhenti bekerja dan  fokus pada kedua buah hati.  Semua berjalan sempurna karena keputusan yang diambil telah disepakati bersama.  Keduanya menikmati perannya masing-masing dalam membina biduk rumah tangga kecil mereka. 
Hari itu, usia perkawinan Yuni dan Bimo memasuki tahun ke-6.  Akan menjadi hari yang paling membahagiakan mereka tentunya. Namun tak disangka tak diduga, ternyata justru berita yang sangat me-luluhlantak-kan hati Yuni yang dia terima.  Bimo ditangkap polisi karena dugaan penyalahgunaan dana pembangunan gedung di kantornya.  Hati Yuni kian terpuruk ketika ia menyaksikan Bimo, pria yang sangat dicintainya, terduduk lesu dan muram di lantai penjara saat dia datang menjenguk suaminya.  Tiba-tiba saja tangisan Yuni pecah saat Bimo menggenggam tangannya dan mengucapkan maafnya berkali-kali sambil berlutut dihadapan Yuni dari balik jeruji penjara.  Yuni tidak pernah menyangka bahwa Bimo bisa melakukan hal itu.  Bimo yang ia kenal selama ini adalah sosok pria yang bertanggung jawab dan jujur sehingga tidak mungkin Bimo  melakukan hal seperti yang dituduhkan itu. 
Malang tak dapat dicegah, untung tak dapat diraih.  Setelah melalui masa persidangan yang melelahkan akhirnya vonis pengadilan memutuskan Bimo harus menjalani hukuman dengan masa pidana penjara selama 5 tahun.  Sejak masa persidangan hingga saat di penjara, Yuni tidak pernah sedikitpun meninggalkan Bimo sendiri.  Hampir setiap hari Yuni selalu menyempatkan hadir mengunjungi Bimo untuk memberinya semangat dan dukungan agar Bimo mampu menghadapi cobaan ini dengan tabah dan tawakal.  Yuni yakin bahwa Bimo hanyalah korban dari “kejahatan bersama” yang dilakukan oleh rekan-rekan kantornya. Namun karena Bimo berperan sebagai bendahara proyek tersebut maka sepenuhnya tanggung jawab penggunaan dana berada di tangan Bimo.
Kini, Yuni memutuskan untuk kembali bekerja demi menyambung kehidupan dan membesarkan dua buah hati mereka.  Walau menjalani kehidupan yang timpang tanpa adanya pendamping di sisinya, tidak membuat Yuni terjerat dalam lubang kesedihan yang berlarut-larut.  “Hidup harus terus berjalan, cobaan bisa datang kapan saja silih berganti, namun kita tidak boleh kehilangan rasa bahagia dan syukur kita atas nikmat Tuhan lainnya yang telah diberikan kepada kita”.  Itulah yang Yuni katakan pada saya, ketika saya datang menengoknya untuk mengetahui bagaimana kabarnya setelah Bimo berada di penjara. 
Saya kembali dipertontonkan kisah indah yang menurut saya sangat luar biasa.  Kisah tentang bagaimana kuatnya cinta dapat mempersatukan dua insan manusia baik saat bahagia maupun saat terpuruk.  Kisah tentang kesetiaan seorang istri kepada suaminya baik pada saat dia sukses maupun saat gagal dan kisah bagaimana seorang mahluk Tuhan mampu tetap bahagia dan bersyukur terhadap nikmat dan ujian yang Tuhan berikan. 
Saya kagum, bangga dan sekaligus terharu baik kepada Yuni maupun Bimo.  Mereka, masih tetap mampu menyuguhkan kondisi layaknya sebuah keluarga bahagia walau kehidupan mereka dipisahkan oleh jeruji penjara.  Saya tak kuasa menahan air mata saat saya menuliskan kisah ini. Mereka adalah potret keluarga yang sesungguhnya walaupun hidup mereka serba kekurangan. Mereka memiliki bahagia yang mungkin tidak dirasakan oleh keluarga kaya yang utuh berkumpul dalam satu rumah tapi tidak disatukan dengan cinta.  “Yuni,Bimo, kalian berhak untuk bahagia dan ternyata kalian memang sudah memilih untuk bahagia dengan menjalani apa yang sudah menjadi ketetapan Tuhan dengan penuh kesabaran dan ketabahan.”.  Saya sangat setuju, bahwa bahagia itu hanya diri kita-lah yang bisa menentukannya.  Bahwa arti bahagia bagi setiap orang tidak akan pernah sama karena merekalah yang memilih warna bahagia mereka sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar