Nikmat Yang Tak (Sempat) TerhitungApa sih kira-kira yang ada di benak kita saat mendengar kata “Bonus”?. Mungkin ada yang sudah merancang mimpi untuk membeli “ini” dan “itu” walaupun duitnya saja belum di tangan (hehee…curhat colongan). Mungkin ada juga yang sudah berencana mau berwisata baik ke luar maupun ke dalam negeri. Atau ada pula yang ingin ditabung untuk persiapan masa depan. Waahh, rasanya kalo diminta menuliskan hal-hal indah pasti banyak sekali yang ada di benak kita khan?Moment saat kita menerima bonus biasanya diiringi ekspresi yang beraneka ragam. Ada yang senang ada yang sedih, ada yang bersyukur ada yang mengeluh, ada yang serius ada yang cuek (iiih…masa sih ada yang begitu? mungkin hatinya bukan pualam yak! heheee). Tapi itulah cuplikan kisah yang terjadi. That’s life !!.Bonus mengingatkan perjumpaan saya dengan seorang office girl. Kisah itu menjadi sesuatu yang sangat luar biasa, karena telah membuat saya mengerti bagaimana caranya memaknai sebuah nikmat. Hingga saat ini pun saya selalu meneteskan air mata jika mengingatnya.Kala itu, saya marah dan kecewa pada atasan saya terkait promosi yang dijanjikan. Dengan segala jerih payah dan usaha yang dilakukan, saya merasa sangat berhak akan promosi itu. Bagaimana tidak?, kantor sudah seperti rumah kedua. Selain itu, tugas apapun yang diberikan selalu bisa saya selesaikan tepat waktu dan sempurna (menurut ukuran saya lho…). Jadi rasanya hal itu cukuplah untuk dijadikan bahan pertimbangan untuk promosi saya.Saya melampiaskan rasa kesal dan marah dengan “bersemedi” di musholla kecil di pojok lantai basement yang gelap (hmm…masih syukur bisa ada musholla khan? So, do not complain!). Disana saya menangisi ketidakberdayaan atas nasib yang saya terima. Tiba-tiba suara pintu berderit dan dari balik pintu muncul seorang wanita muda (mungkin berumur sekitar 20 tahun laah..). Ia mengucapkan salam “Assalamualaikum”. Saya buru-buru menyeka air mata (karena takut ketahuan sedang menangis hehehe…) sambil menjawab “Waalaikumsalam”. Dia melemparkan senyumnya dan mohon izin untuk ikut sholat.Ketika selesai berdoa, wajahnya berpaling kepada saya. Sambil tersenyum ia berkata “Mbak lagi sedih yaa….kok matanya sampai sembab begitu?”. Saya balas tersenyum dan menjawab sapaanya dengan lirih “nggak kok mbak….cuma ingin merenung saja atas nasib yang menimpa saya”.Tanpa diminta, wanita itu bercerita kalo dia adalah seorang office girl baru di kantor ini, “baru dua minggu” katanya. Dengan nyamannya dia berkisah bahwa perusahaan outsourcing tempatnya bekerja, memenuhi permintaannya untuk pindah lokasi kantor agar dekat dengan rumah. Dia bersyukur sekali untuk itu. Bahkan dalam ceritanya, tanpa sengaja dia juga mengisahkan bahwa dia baru saja menerima bonus dan kenaikan gaji. “Hmmm…pasti gede niiih…sampai cerita segala” ungkap saya dalam hati.Namun dugaan saya sama sekali tidak tepat. Dia mengatakan bahwa dia baru saja menerima bonus sebesar dua ratus ribu rupiah dan kenaikan gaji sebesar seratus ribu rupiah. Mata indahnya berkaca-kaca saat dia bilang bahwa kini dia sudah mampu untuk membelikan anaknya susu secara rutin. Tidak sama seperti bulan-bulan sebelumnya dimana gajinya habis buat ongkos. Dulu dia harus membagi uangnya untuk membeli susu dan makannya sehari-hari. Dia sangat bersyukur atas karunia yang Allah berikan padanya, sehingga dia juga rela menyisihkannya untuk sedekah anak Yatim.Seperti tersambar petir di siang bolong rasanya hati saya saat itu. Dengan uang yang hanya sejumlah itu mbak office girl tersebut mampu mengungkapkan rasa syukurnya yang luar biasa kepada Sang Pencipta atas nikmat yang diterimanya. Sedangkan saya? saya sibuk menangisi nasib yang menurut saya sedang dalam masa “paling sial”. Padahal jika dibandingkan dengan nilai bonus dan kenaikan gaji yang saya terima, harusnya saya lebih bersyukur. Tapi kemana perginya rasa syukur saya itu?.Ya Tuhaaan….hati saya langsung bergemuruh. Bagaimana bisa, nikmat yang sudah Allah berikan pada saya justru membuat saya “lupa” akan namanya bersyukur. Sedangkan mbak office girl mampu untuk tetap bersyukur. Aaaaah…maluuuu…rasanya.Hal yang lebih membuat saya lebih terjerembab lagi ke dasar bumi atas kisah itu adalah saat dia bilang bahwa dirinya rela untuk tidak naik gaji ataupun dapat bonus asalkan Allah tidak memberikan sakit kepada anaknya. Menurutnya, percuma saja jika naik gaji tapi anaknya sakit. Akhirnya kenaikan gaji itu juga untuk berobat anaknya. Setelah dia selesai mengatakan itu…saya langsung peluk erat-erat dia sambil menangis keras dan berkata “makasiiiih mbaaak….makasiiiih mbak….” secara berulang-ulang.Rasa terima kasih dan tangisan itu adalah wujud kesadaran saya karena mbak office girl sudah mengingatkan saya bahwa begitu banyak nikmat Allah yang tak (sempat) terhitung oleh saya. Betapa saya hanyalah makhluk Tuhan yang tak tahu balas budi atas setiap nikmat yang Tuhan titipkan pada saya.Hari itu adalah hari yang tidak pernah saya lupakan hingga detik ini. Mbak office girl telah mengajarkan saya bahwa hidup itu bukan materi ukurannya. Bahwa bahagia itu kita sendiri yang bisa menciptakannya. Bahwa banyak sekali nikmat Tuhan yang sama sekali tidak kita sadari sudah kita miliki sangaaaat banyaaakkk….hingga tak terhitung. Disetiap doa, tidak pernah lupa saya selalu meminta agar Allah berkenan memelihara hati saya untuk selalu diliputi rasa syukur yang besar atas semua nikmat yang DIA berikan.
Senin, 22 Oktober 2012
Nikmat Yang Tak (Sempat) Terhitung
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar