Senin, 22 Oktober 2012

Memilih Warna Bahagia (part1)


Memilih Warna Bahagia (part 1)
           Dalam menjalani kehidupan ini, kita semua pasti pernah merasakan bahagia.  Bisa bahagia untuk diri sendiri, keluarga, teman ataupun bahagia atas nikmat Tuhan.  Biasanya sih, ukuran bahagia setiap orang itu berbeda tergantung situasinya masing-masing.  Untuk saya yang seminggu bekerja full time, libur pastinya menjadi sesuatu yang membahagiakan.  Tapi untuk mereka yang memang setiap harinya sudah libur alias berada dirumah, pasti kadar bahagianya berbeda.  Semuanya tergantung bagaimana sudut pandang masing-masing individu yang mengalaminya.
            Kadang kita sering melihat kehidupan orang lain rasanya super bahagia.  Sudah cantik, kaya bahkan pintar pula, seolah-olah dunia tuh sudah dalam genggamannya.  Padahal bisa jadi itu yang nampak diluarnya saja, karena kita tidak akan pernah tahu apa yang benar-benar mereka rasakan.  Pada dua kisah berikut ini, kita bisa memaknai bahwasanya bahagia itu kita sendirilah yang menentukannya. Kita sendiri yang akan memilih warna bahagia dalam hidup kita.
Vera, seorang wanita bekerja paruh baya yang memasuki masa jelang pensiunnya.  Dia masih terlihat cantik, enerjik dan terlihat jelas dia merawat kondisi fisiknya secara sempurna (bikin saya iri !!).  Everything is perfect buat Vera apalagi ditambah jabatan VP alias Vice President di sebuah bank besar.  Siapapun yang melihatnya pasti ingin sekali menjadi se-sosok Vera (termasuk saya !) 
Tapi apakah Vera juga memandang hidupnya se-sempurna seperti yang orang lain lihat?.  Apakah dia sebahagia seperti yang orang lain pikirkan?.  Apakah dia bisa memiliki semua yang dia mau dalam hidupnya seperti yang orang lain duga?.  Jawabnya ”tidak” bagi Vera.  Hingga diusianya yang kini 53 tahun, dia belum juga menemukan pasangan hidup tempat dia berbagi suka dan duka.  Pengkhianatan yang dilakukan kekasihnya 30 tahun silam sangat membekas di hatinya, hingga ia memutuskan untuk tidak menikah dan memilih pekerjaanya sebagai pengganti belahan jiwanya. 
Vera adalah seorang anak tunggal dari keluarga “broken home”. Ayahnya meninggalkan dia dan sang ibu, saat hatinya tertambat pada sekertaris pribadinya di kantor.  Marah dan dendam kerap mencuat tatkala ia teringat kisah pilunya di masa lalu. Benci dan kesal saat ia tidak berdaya menghalau semua itu.  Hingga akhirnya, Vera memilih untuk mencurahkan segala tenaga dan pikirannya pada pekerjaanya secara all out.
Dari Vera saya belajar, bahwa hidup seseorang itu tidak seindah seperti yang kita lihat.   Hidup itu sejatinya bukan pada apa yang nampak, namun pada hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi.  Dendam dan marah hanya akan berujung pada rasa itu sendiri.  Andai Vera bisa sedikit berdamai dengan hatinya, andai dia mampu memaafkan sang Ayah dan mantan kekasihnya pasti kehidupan yang lebih tenang dan bahagia.  Minimal bisa ia menikmatinya bersamaan dengan kelimpahan materi yang ia dapatkan. 
Saya berharap agar Tuhan berkenan melunakkan hatinya.  Sehingga “maaf” berduyun-duyun akan hadir mengisi relung-relung hatinya yang kosong tanpa cinta.  Semoga Vera bisa merasakan cinta, bahagia dan rasa syukur atas kehidupan yang dia miliki.  Saya sadar betul bahwa itulah jalan hidup yang Vera pilih.
Tidak pernah ada kata terlambat.  Hanya kita sendiri yang bisa merubah kehidupan yang sudah kita pilih. Kemarin, sekarang atau esok hanyalah dimensi waktu.  Namun pilihan untuk bahagia hanya kita yang bisa memulainya sejak sekarang.  Harapan ini, saya juga tujukan untuk diri saya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar