Memilih Warna Bahagia
(part 1)
Dalam
menjalani kehidupan ini, kita semua pasti pernah merasakan bahagia. Bisa bahagia untuk diri sendiri, keluarga,
teman ataupun bahagia atas nikmat Tuhan.
Biasanya sih, ukuran bahagia
setiap orang itu berbeda tergantung situasinya masing-masing. Untuk saya yang seminggu bekerja full time, libur pastinya menjadi
sesuatu yang membahagiakan. Tapi untuk
mereka yang memang setiap harinya sudah libur alias berada dirumah, pasti kadar
bahagianya berbeda. Semuanya tergantung
bagaimana sudut pandang masing-masing individu yang mengalaminya.
Kadang kita sering melihat kehidupan
orang lain rasanya super
bahagia. Sudah cantik, kaya bahkan
pintar pula, seolah-olah dunia tuh sudah
dalam genggamannya. Padahal bisa jadi
itu yang nampak diluarnya saja, karena kita tidak akan pernah tahu apa yang
benar-benar mereka rasakan. Pada dua
kisah berikut ini, kita bisa memaknai bahwasanya bahagia itu kita sendirilah yang menentukannya. Kita sendiri
yang akan memilih warna bahagia dalam hidup kita.
Vera, seorang wanita bekerja
paruh baya yang memasuki masa jelang pensiunnya. Dia masih terlihat cantik, enerjik dan terlihat
jelas dia merawat kondisi fisiknya secara sempurna (bikin saya iri !!). Everything
is perfect buat Vera apalagi ditambah jabatan VP alias Vice President di
sebuah bank besar. Siapapun yang
melihatnya pasti ingin sekali menjadi se-sosok Vera (termasuk saya !)
Tapi apakah Vera juga memandang
hidupnya se-sempurna seperti yang orang lain lihat?. Apakah dia sebahagia seperti yang orang lain
pikirkan?. Apakah dia bisa memiliki
semua yang dia mau dalam hidupnya seperti yang orang lain duga?. Jawabnya ”tidak” bagi Vera. Hingga diusianya yang kini 53 tahun, dia belum
juga menemukan pasangan hidup tempat dia berbagi suka dan duka. Pengkhianatan yang dilakukan kekasihnya 30
tahun silam sangat membekas di hatinya, hingga ia memutuskan untuk tidak
menikah dan memilih pekerjaanya sebagai pengganti belahan jiwanya.
Vera adalah seorang anak tunggal
dari keluarga “broken home”. Ayahnya meninggalkan dia dan sang ibu, saat hatinya
tertambat pada sekertaris pribadinya di kantor.
Marah dan dendam kerap mencuat tatkala ia teringat kisah pilunya di masa
lalu. Benci dan kesal saat ia tidak berdaya menghalau semua itu. Hingga akhirnya, Vera memilih untuk
mencurahkan segala tenaga dan pikirannya pada pekerjaanya secara all out.
Dari Vera saya belajar, bahwa
hidup seseorang itu tidak seindah seperti yang kita lihat. Hidup itu sejatinya bukan pada apa yang
nampak, namun pada hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi. Dendam dan marah hanya akan berujung pada
rasa itu sendiri. Andai Vera bisa
sedikit berdamai dengan hatinya, andai dia mampu memaafkan sang Ayah dan mantan
kekasihnya pasti kehidupan yang lebih tenang dan bahagia. Minimal bisa ia menikmatinya bersamaan dengan
kelimpahan materi yang ia dapatkan.
Saya berharap agar Tuhan
berkenan melunakkan hatinya. Sehingga
“maaf” berduyun-duyun akan hadir mengisi relung-relung hatinya yang kosong
tanpa cinta. Semoga Vera bisa merasakan
cinta, bahagia dan rasa syukur atas kehidupan yang dia miliki. Saya sadar betul bahwa itulah jalan hidup
yang Vera pilih.
Tidak pernah ada kata
terlambat. Hanya kita sendiri yang bisa
merubah kehidupan yang sudah kita pilih. Kemarin, sekarang atau esok hanyalah
dimensi waktu. Namun pilihan untuk
bahagia hanya kita yang bisa memulainya sejak sekarang. Harapan ini, saya juga tujukan untuk diri saya
sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar