Rumahku, Surgaku
Rumah adalah Surga
ketika….
Damai
saat didalamnya
Nyaman
saat dekat dengannya
Rindu
saat jauh darinya
Bahagia saat berkisah tentangnya
Menciptakan rumah menjadi hunian
yang nyaman adalah impian. Apapun bisa
dilakukan untuk mewujudkannya. Apakah rumah
yang indah dan mewah selalu nyaman ?. Hmm…rasanya
kita semua pasti setuju bahwa nyaman bukanlah pada apa yang tampak, tapi pada
apa yang dirasakan oleh penghuni rumah.
Idealnya, penghuni rumah adalah sebuah
keluarga yang lengkap dengan sosok Ayah, Ibu dan anak-anak. Masing-masing menjalankan perannya sesuai
yang diharapkan. Ayah bekerja untuk
menjemput rezeki di luar rumah. Ibu
menjadi pengelola rumah yang handal dan anak-anak menempa ilmu di sekolah. Semuanya berupaya untuk saling melengkapi
satu sama lain dalam mencapai tujuan yang sama sebagai sebuah keluarga.
Lantas, bagaimana jika peran
tersebut tidak berjalan semestinya? Misalnya,
seorang ibu yang seharusnya berada dirumah justru menjalankan peran ganda
sebagai pencari nafkah. Apakah kemudian keluarga ini akan kehilangan impiannya? Apakah kosongnya peran ibu dirumah membuat
keluarga tidak bahagia? Hmmm…pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab, karena
setiap keluarga punya latar belakang masing-masing. Sehingga jawaban terhadap pertanyaan itu pun
bisa bervariasi.
Sejatinya, kehidupan rumah
tangga adalah suatu proses. Sehingga
mungkin saja memang di awalnya sebuah keluarga akan mengalami hal yang tidak
nyaman ketika terjadi kekosongan peran dalam keluarga. Namun pada akhirnya, setiap anggota keluarga
akan beradaptasi pada kondisi yang ada.
Hal tersebut terjadi karena didasari pada suatu komitmen yang kuat dalam
keluarga.
Tidak hadirnya sosok ibu secara
fisik dirumah tidak akan menjadi masalah apabila dipersiapkan dengan baik. Ibu harus berupaya untuk memberikan perhatian,
waktu dan tenaga secara “lebih” kepada
anggota keluarga. Begitu pula dengan
anggota keluarga lainnya. Ayah dan
anak-anak pun harus “rela” menerima
keadaan yang tidak sempurna. Hingga pada
akhirnya, tercipta suatu “understanding
condition” antar anggota keluarga. Anak-anak
akan tetap bisa merasakan keberadaan ibu saat mereka pulang sekolah walau hanya
menjumpai “catatan kecil penuh pesan” di pintu kulkas. Ayah bisa tetap menikmati hasil masakan ibu
walau harus rela menyantapnya lebih larut.
Dalam hal ini, tanpa terasa kuantitas
telah tergantikan dengan kualitas.
Kualitas adalah kunci penting
dalam mengimbangi ketidaksempurnaan peran dalam suatu keluarga. Kualitas juga mampu menjadi perekat dalam
keluarga saat seluruh anggota sibuk dengan perannya masing-masing. Setiap anggota keluarga wajib memegang teguh
“komitmen” untuk menjalankan perannya dengan baik agar kualitas tetap menjadi
prioritas.
Saat ini, banyak wanita
menjalani peran ganda sebagai ibu rumah tangga dan pekerja. Umumnya, para wanita tersebut sudah memulainya
sejak awal pernikahan. Peran mereka
menjadi tidak mudah ketika mulai memiliki anak.
Rasa khawatir yang besar terhadap buah hati, membuat rumah orang tua
menjadi “TPC” alias tempat penitipan
cucu ( heheee….termasuk saya). Diantara
mereka, ada yang setiap pagi harus memboyong anak-anaknya ke TPC dan akan menjemputnya di sore atau
malam harinya.
Situasi itu masih lebih
beruntung dibandingkan harus menitipkan anak ke saudara, tetangga bahkan hingga
ke yayasan penitipan anak. Hebatnya, ternyata
mereka semua masih bisa menikmati kehidupan tersebut (walau tidak jarang ada juga
yang mengeluh siih...). Komitmen
yang kuat rasanya memang menjadi hal terpenting dalam suatu keluarga. Dukungan dari semua anggota keluarga mutlak
diperlukan demi terciptanya kenyamanan.
Sehingga “Rumahku, Surgaku” bukan lagi menjadi impian semata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar