Senin, 22 Oktober 2012

Rumahku, Surgaku


Rumahku, Surgaku
          Rumah adalah Surga ketika….
Damai saat didalamnya
Nyaman saat dekat dengannya
Rindu saat jauh darinya
          Bahagia saat berkisah tentangnya

Menciptakan rumah menjadi hunian yang nyaman adalah impian.  Apapun bisa dilakukan untuk mewujudkannya.  Apakah rumah yang indah dan mewah selalu nyaman ?.  Hmm…rasanya kita semua pasti setuju bahwa nyaman bukanlah pada apa yang tampak, tapi pada apa yang dirasakan oleh penghuni rumah. 

Idealnya, penghuni rumah adalah sebuah keluarga yang lengkap dengan sosok Ayah, Ibu dan anak-anak.  Masing-masing menjalankan perannya sesuai yang diharapkan.  Ayah bekerja untuk menjemput rezeki di luar rumah.  Ibu menjadi pengelola rumah yang handal dan anak-anak menempa ilmu di sekolah.  Semuanya berupaya untuk saling melengkapi satu sama lain dalam mencapai tujuan yang sama sebagai sebuah keluarga.
Lantas, bagaimana jika peran tersebut tidak berjalan semestinya?  Misalnya, seorang ibu yang seharusnya berada dirumah justru menjalankan peran ganda sebagai pencari nafkah. Apakah kemudian keluarga ini akan kehilangan impiannya?  Apakah kosongnya peran ibu dirumah membuat keluarga tidak bahagia? Hmmm…pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab, karena setiap keluarga punya latar belakang masing-masing.  Sehingga jawaban terhadap pertanyaan itu pun bisa bervariasi.
 
Sejatinya, kehidupan rumah tangga adalah suatu proses.  Sehingga mungkin saja memang di awalnya sebuah keluarga akan mengalami hal yang tidak nyaman ketika terjadi kekosongan peran dalam keluarga.  Namun pada akhirnya, setiap anggota keluarga akan beradaptasi pada kondisi yang ada.  Hal tersebut terjadi karena didasari pada suatu komitmen yang kuat dalam keluarga.
Tidak hadirnya sosok ibu secara fisik dirumah tidak akan menjadi masalah apabila dipersiapkan dengan baik.  Ibu harus berupaya untuk memberikan perhatian, waktu dan tenaga secara “lebih” kepada anggota keluarga.  Begitu pula dengan anggota keluarga lainnya.  Ayah dan anak-anak pun harus “rela” menerima keadaan yang tidak sempurna.  Hingga pada akhirnya, tercipta suatu “understanding condition” antar anggota keluarga.  Anak-anak akan tetap bisa merasakan keberadaan ibu saat mereka pulang sekolah walau hanya menjumpai “catatan kecil penuh pesan” di pintu kulkas.  Ayah bisa tetap menikmati hasil masakan ibu walau harus rela menyantapnya lebih larut.  Dalam hal ini,  tanpa terasa kuantitas telah tergantikan dengan kualitas.
Kualitas adalah kunci penting dalam mengimbangi ketidaksempurnaan peran dalam suatu keluarga.  Kualitas juga mampu menjadi perekat dalam keluarga saat seluruh anggota sibuk dengan perannya masing-masing.  Setiap anggota keluarga wajib memegang teguh “komitmen” untuk menjalankan perannya dengan baik agar kualitas tetap menjadi prioritas.
Saat ini, banyak wanita menjalani peran ganda sebagai ibu rumah tangga dan pekerja.  Umumnya, para wanita tersebut sudah memulainya sejak awal pernikahan.  Peran mereka menjadi tidak mudah ketika mulai memiliki anak.  Rasa khawatir yang besar terhadap buah hati, membuat rumah orang tua menjadi “TPC” alias tempat penitipan cucu ( heheee….termasuk saya).  Diantara mereka, ada yang setiap pagi harus memboyong anak-anaknya ke TPC dan akan menjemputnya di sore atau malam harinya. 
Situasi itu masih lebih beruntung dibandingkan harus menitipkan anak ke saudara, tetangga bahkan hingga ke yayasan penitipan anak.  Hebatnya, ternyata mereka semua masih bisa menikmati kehidupan tersebut (walau tidak jarang ada juga yang mengeluh siih...).  Komitmen yang kuat rasanya memang menjadi hal terpenting dalam suatu keluarga.  Dukungan dari semua anggota keluarga mutlak diperlukan demi terciptanya kenyamanan.   Sehingga “Rumahku, Surgaku” bukan lagi menjadi impian semata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar